Tampilkan postingan dengan label Cerpen. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label Cerpen. Tampilkan semua postingan

Rabu, 09 Maret 2016

Berteman Sepi



Sore ini aku ditemani rintik-rintik air hujan yang semakin sedikit turun bersama gelegar kilatan petir yang menyambar langit. Aku duduk sendirian di sini. Harusnya tidak sendirian, namun aku sendiri yang menyebabkan kesendirianku ini.

Tempat ini cukup ramai jika dilihat dari kejauhan, banyak orang sedang berkumpul bersama teman-temannya sambil menunggu hujan yang mereda. Suara tawa mereka dapat terdengar melalui telingaku. Sedangkan aku hanya dapat bercengkrama dengan hujan dan bertanya sesuatu yang tidak memiliki jawaban, tanpa suara. Aku sendiri dengan pemikiranku.

Hujan kembali mulai terdengar berisik dengan semua kenangan-kenangan yang jatuh bersamanya. Kenangan tempat ini, bersama orang-orang yang aku rindukan. Namun ternyata aku lebih memilih berteman dengan sepi sekarang.

Mungkin sudah satu jam yang lalu aku menunggu di sini, berharap seseorang akan datang dan masih ingin menunggu kehadiranku. Aku menyadari sesuatu, kekecewaan mereka akhirnya datang. Bahkan panggilan yang ku tujukan tidak mereka hiraukan.

Harusnya aku datang lebih awal. Harusnya aku tidak berteman dengan permasalahan dan mengabaikan teman-temanku. Akulah yang menyuruh mereka datang, namun pemikiranku sendiri yang membatalkannya.

Lima jam yang lalu sekelompok orang duduk bersama di sini, ah suara hujan itu mengubah pemikiranku. Aku bahkan dapat membayangkan wajah mereka satu per satu yang tampak gelisah dan kecewa. Ini bukan kali pertama aku melakukan hal ini pada mereka. Mungkin kini mereka lelah menungguku yang tidak kunjung berubah. Masih setia dengan masalah yang tidak ingin aku ceritakan.

Semuanya berawal dari sana, pemikiranku yang tiba-tiba saja mengubah raga ini. Dalam sekejap, aku sang gadis periang menjadi arogan. Aku menangis tanpa mengetahui alasan yang mendasari air mata itu terjatuh. Aku menghiraukan semua sapaan yang ditujukan padaku dan memberi mereka wajah mengerikan, cemberut. Ada masalah sebenarnya, namun jawabannya ada dalam diriku. Pemikiranku tidak mengijinkan aku memikirkan masalah itu.

Kemudian semua itu hilang dan aku kembali menjadi diriku yang biasanya, ramah, ceria dan menyenangkan. Semua teman-teman menyukaiku karena aku selalu memberi energi baik, katanya.  Aku mempertahankan segalanya.

Aku tidak dapat berkata tidak pada setiap pertolongan yang memintaku untuk terlibat. Namun akhir-akhir ini aku banyak mengecewakan orang-orang. Pemikiranku tidak dapat dikontrol dan aku meluapkan segalanya dengan hanya mengurung diri di kamar dengan ponsel yang dimatikan. Berharap orang lain tidak mengetahui masalah ini.

Saat terbangun, kemudian aku menyesali perbuatanku.

Lima jam yang lalu aku menjanjikan mereka untuk bertemu. Saling bercengkrama seperti biasa, karena mereka kecewa aku tidak lagi sama. Sering menyendiri dan lebih pendiam dari biasanya. Aku selalu melakukan itu, dan kemudian pemikiranku menyesali perjanjian itu. Aku sendiri yang melanggarnya, berulang kali.

Aku ingin menangis di bawah hujan ini. Bukan, ini masih aku yang ceria dan kemudian tertekan dengan kondisi ini. Seolah jiwa ini memendam kesediahan yang amat dalam hingga tidak dapat mengeluarkan air mata dan mencoba tersenyum. Saat-saat aku berteman dengan sepi itu, aku membutuhkannya sekarang untuk membuatku menangis. Setidaknya ada hal-hal yang memang terasa melegakan saat aku dan pemikiranku itu, seolah ada sesuatu yang dapat aku luapkan, lalu aku tertidur dan dapat tersenyum kembali.

Kamis, 01 Oktober 2015

Diantara Dua Pemuda



Gadis manis itu menatapku penuh harap. Aku merasa kebingungan dengan jawaban yang akan aku lontarkan sekarang. Paling baik adalah ketika kamu bisa menyatukan kedua pilihan itu.



“Sudah jelas apa yang kamu lakukan ini salah!” Aku memberitahunya, berulang kali. Namun sepertinya ucapanku tidak pernah didengarkan.

Gadis itu hanya tersenyum, cantik sekali. Sayang, kecantikannya membuat ia disukai para pemuda. Tapi hanya ada dua orang pemuda di hatinya, pemuda yang sedang kami perbincangkan saat ini.

Tiba-tiba saja ketika pagi hari di suasana liburku yang tenang, aku dikejutkan oleh kedatangannya. Ketika ku buka, ia sedang berdiri di belakang pintu sambil berkata, “Aku harus bagaimana?”.

Tujuan kedatangannya ke sini hanya untuk bercerita tentang keadaannya yang kini sedang kacau. Semalam ia ketahuan oleh kekasihnya bahwa ia sedang selingkuh melalui media sosial. Kekasihnya itu sangat ahli dalam mencari tahu hingga beberapa kali ia sering ketahuan.

“Itu salahmu, kenapa kamu selingkuh lagi?” Kataku kembali menghakimi.

Ia hanya menghela nafas, “Dua hari sebelumnya kita sudah putus, jadi tidak salah jika aku berkomunikasi dengan pemuda lain.” Gadis ini dengan kekasihnya selalu saja mengumbar kata putus ketika mereka bertengkar lalu tidak lama kemudian mereka akan kembali menjalin hubungan.

“Katanya jika ia putus denganku, ia tidak akan memiliki kekasih lagi selama dua tahun, tapi ketika aku putus dengannya hanya dengan satu hari saja aku sudah dekat dengan pemuda lain,” Sesalnya.

Aku mengerti alasan kekasihnya marah. Tapi terkadang aku juga kasihan dengan gadis ini. Saat ini bukan pertama kalinya ia bercerita padaku. Sudah berulang kali. Ketika mereka bertengkar, alasannya selalu karena kekasihnya yang terlalu protektif hingga ia tidak bisa bahkan hanya untuk berkomunikasi dengan teman laki-lakinya. Mungkin karena takut kehilangan. Terlalu serius tapi aku tahu ia sangat setia.

Lain lagi cerita dengan pemuda yang kini menjadi selingkuhannya, selalu saja ia. Pemuda ini entah mengapa rela menunggu sang gadis meskipun ia tahu bahwa gadis ini memiliki kekasih. Sosoknya bagai pangeran yang selalu ada ketika gadis ini memiliki masalah dengan kekasihnya. Tapi aku tahu, pemuda ini bagaikan sosok yang melengkapi kekurangan kekasihnya, ia periang, humoris, mudah diajak bercanda. Tapi ia yang sering menunggu itu juga sering putus-nyambung dengan kekasihnya yang lain.

Aku bingung. Untuk aku tidak pernah masuk ke dunia seperti itu sebelumnya, jadi aku tidak mengerti harus melakukan apa.

“Jadi, bagaimana menurutmu?” Kesadaranku kembali setelah merenung beberapa kali.

“Menurutku, lebih baik  jangan pacaran, belum tentu juga jodohmu diantara mereka berdua kan? Jadinya tidak akan pusing seperti ini.” Aku menjawab sebisaku.

Gadis itu menatapku tajam, “Ah, kamu tidak mengerti.” Akhirnya ia beranjak dari kamarku.

Gadis itu selalu bercerita padaku meskipun aku selalu memberikan jawaban yang tidak sesuai keinginannya. 

Tapi yah, begitulah ia, sepertinya membutuhkan seseorang untuk mendengarkan keluh kesahnya.


Minggu, 07 Juni 2015

Pesan Terabaikan

Pagi ini sebuah pesan tiba-tiba saja masuk ke handphoneku. Bukan dari seseorang, melainkan dari operator layanan kartu yang aku gunakan. Biasanya selalu ku abaikan begitu saja karena terkadang pesan itu hanyalah sebuah iklan supaya kita membeli paket yang disediakan operator yang menurut pandanganku cukup mahal dengan jangka waktu yang selalu ditentukan.


Namun, aku menjadi penasaran. Setelah paket data ku aktifkan tidak ada satupun pemberitahuan dari media-media sosial yang biasanya ku gunakan. Bagaimana pun aku hanya menjadi seorang pembaca saja. Jarang mengungkapkan pendapat di tengah percakapan banyak orang. Hanya mengamati.

Rabu, 03 September 2014

My Secret Idol

“My Secret Idol
Pagi ini matahari disambut ceria oleh para penghuni alam semesta, setelah berlalunya malam yang cukup menguras tenaga beberapa penggemar yang tak hentinya berjingkrak-jingkrak ria mengikuti alunan music yang terus berdengung hingga larut malam itu berthenti juga, namun kenangan yang tidak pernah dapat dilupakan itu akan selalu menjadikan malam itu malam yang istimewa bagi beberapa orang.
“Apa kau datang ke konsernya tadi malam?” Tanya beberapa siswi yang antusias menanyai beberapa orang yang sudah sejak pagi tadi membicarakan tentang idola mereka. Super Gen.
“Tentu saja harus. Kami ini datang awal sekali, ya meskipun kami ada di barisan belakang, tapi itu tidak mengurangi ketampanan Refli” jawab salah seorang diantara mereka, yang lainnya mengangguk tanda membenarkan.
Aku bahkan ada di barisan depan.
“Lalu bagaimana penampilan mereka?” Tanya mereka lagi penasaran.
“Super Gen tidak melakukan kesalahan apapun, penampilan mereka selalu hebat” jawabnya bangga.
Apa kau tidak melihat? Bahkan Ozi hampir terpeleset ketika  dance tunggal.
Setelah cukup berbincang ria seputar konser yang menggemparkan tadi malam, gadis tadi yang seolah mewawancarai mereka kembali duduk di bangkunya dengan puasnya setelah mendapat beberapa informasi dari kelompok gadis terlihat sangat gaul dengan pakaian mereka yang serba fashionable.
“Apa kau mendengarnya barusan? The Fun kemarin datang ke konser Super Gen. Andai saja aku bisa datang” Gadis yang biasa dipanggil Ocha ini memejamkan mata sambil membayangkan konser yang hanya bisa dilihatnya lewat layar kaca, mencoba memulai percakapan dengan orang disampingnya.
“Oh, aku bahkan tidak tertarik dengan semua itu”
Aku sangat menyukai mereka, Ocha.
“Sepertinya Titin tidak terlalu tahu tentang ketampanan mereka. Super Gen itu terdiri dari Refli yang tampan, Ozi yang misterius, Robby yang mempesona dan Agus yang selalu perhatian pada fans. Mereka itu keren sekali” kata Tita menjelaskan, sementara Titin hanya seolah mendengarkan, tidak peduli.
Sudahlah, aku sudah mengetahui semua itu.
Titin merenung sejenak ketika Ocha masih sibuk menjelaskan tentang Super Gen yang jelas-jelas sudah diketahui Titin sebelumnya. Andai ia bisa memberitahu pada Ocha bahwa sebenarnya ia juga menyukai Super Gen, bahkan sejak mereka belum mengetahui itu sebelumnya, pasti akan sangat menyenangkan membicarakan mereka bersama tanpa harus bertanya pada The Fun yang sudah jelas-jelas mereka sangat sombong hanya untuk sekedar ditanyai.
Ada banyak alasan yang tidak cukup untuk menjelaskan semua itu.