Tampilkan postingan dengan label Romansa. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label Romansa. Tampilkan semua postingan

Kamis, 08 Oktober 2015

Ikut Kontak Jodoh


Image result for kontak jodoh kartun
Kampus menjadi dunia yang baru bagiku. Apalagi di jurusan yang sekarang sedang ku jalani, tentang keluarga. Mau tidak mau setiap hari aku menempa diri bagaimana menjadi seorang ibu yang baik bagi anak kelak.

Aneh rasanya mendengarkan curahan hati teman-temanku yang sepertinya ingin segera menikah. Membicarakan mengenai suami idaman yang mereka cari, cara mereka mengajari anak-anaknya kelak. Aku hanya bisa mendengarkan. Bahkan tak jarang, mahasiswi di jurusan ini menikah terlebih dahulu sebelum diwisuda. Katanya sekaligus mempraktikan apa yang selama ini didapatkan di kuliah.

Tidak terlihat aneh memang, karena pada dasarnya di usia yang sekarang ini wajar saja bila seseorang menikah. Hanya saja aku tidak suka jika hal itu dihubungkan dengan kuliahan.

Suatu hari sekelompok orang di antara kami sangat tertarik mengenai kontak jodoh online yang biasanya beredar. Dengan rasa ingin tahu yang tinggi kami membuka situsnya lalu bertanya-tanya mengenai sistem yang mereka gunakan. Bagaimana orang bisa menemukan jodoh mereka melalui ini? Bahkan wajah serta kepribadian tidak bisa kita ketahui.

Alhasil setelah perdebatan yang cukup panjang itu, akulah yang menjadi korban mereka. Dengan terpaksa aku mengikuti saran untuk mencoba membuat akun di sana. Aku merasa bodoh ketika memasukan akun-akun pribadiku.

Rasanya gila ketika aku berhasil mendaftar. Diantara yang lainnya di situs ini aku tergolong sebagai seorang gadis yang masih terlalu muda untuk mendaftar. Aku hanya berharap tidak akan terjadi apa-apa setelah ini.

Pengalaman yang sangat berharga ketika tiba-tiba saja emailku di penuhi pesan pribadi entah dari siapa. Aku hanya mengabaikannya dan mulai berpikir bagaimana cara menghapus akun di situs itu?

Minggu, 04 Oktober 2015

Teruntuk Dirimu



Untukmu yang ingin ku sapa dalam doa...

Maafkan aku atas kesalahan yang telah ku perbuat padamu, menyeretmu untuk bertemu di titik rindu. Saat itu, fitrah ini telah memenuhi qalbu hingga aku melakukan semua inginku.

Baris demi baris tulisan yang saling kita bagi telah mendekatkan spasi semu yang terjadi di antara kita. Aku mungkin tak melihatmu, tapi kau selalu hadir dalam pikiranku. Sangat jelas memenuhi mimpiku, apakah dirimu juga begitu? Aku harap tidak seperti itu.

Aku menyangkalnya, kurasa hanyalah aku yang memiliki masalah itu. Hanya saja, aku tidak ingin hal ini juga terjadi padamu. Aku yang memenuhi pikiranmu, bukannya Rabbmu.

Mungkin aku terlalu percaya diri membayangkan kau yang seperti itu. Namun aku takut, dan mulai lagi menciptakan jarak diantara kita, spasi yang membuat posisiku dan posisimu kini akan lebih bermakna.

Kini aku mulai berbagi tentang pemikiran yang kini memenuhi otakku. Mengirimimu sebuah tulisan. Sejak saat itu, ku rasa kau mulai berbeda.

Aku tidak tahu dan tidak akan pernah tahu bagaimana pendapatmu tentang diriku? Bukan. Bukan maksudku seolah ingin menghilang dari hidupmu. Aku hanya ingin diriku tidak terlalu berharap pada makhluk-Nya. Padamu.

Jangan pernah khawatir kamu akan kehilangan, karena jika memang ditakdirkan bersama. Tidak akan ada yang bisa mencegahnya. Hanya menjaga supaya fitrah itu tidak menimbulkan fitnah bagi diriku juga dirimu.

Meski tak tahu kabarmu hari ini. Meski rasanya selalu ingin tahu tentang dirimu. Aku hanya bisa menyapamu melalui doa yang ku terbangkan bersama angin malam. Aku harus diam-diam menyelipkan namamu di sepertiga malamku.

Aku tidak menyimpanmu dalam hati, karena hati sifatnya bolak-balik dan tidak pasti. Maka, aku menyimpanmu dalam doa yang suci, karena selamanya doa akan tercatat di langit.jika memang kita berjodoh, aku yakin hati ini akan tetap kokoh.

Jika kamu adalah takdirku, maka aku juga akan menjadi takdirmu. Meski kita menegadahkan tangan di waktu yang berbeda dengan maksud yang serupa. Yakinlah Rabb kita mengetahui segalanya. Meski dalam doa, aamiin ku dan aamiin mu tidak senada, aku yakin jika memang terqobul kita akan bersama.

Saat ini aku hanya ingin memantaskan diri. bukan dihadapanmu hingga aku melakukan apa yang baik menurutmu. Tapi di hadapan Rabbku.

Kamis, 17 September 2015

Mengagumi melalui Sosial Media



Aku bahagia hari ini. Baru saja aku mendapatkan sebuah ponsel baru merek ternama di salah satu toko pembelanjaan. Aku mulai mencoba mengutak-atiknya dan mendownload beberapa aplikasi yang sedang ngetrend belakangan ini di kampus. Dulu, rasanya aku bagaikan mahasiswa yang paling tidak update, tapi sekarang semuanya akan berubah saat aku memiliki ponsel baru ini.

Sebuah aplikasi baru media sosial sudah terdownload di ponsel ini. Tapi aku tidak pernah menggunakannya karena aku tidak memiliki teman untuk diajak bercengkrama. Saat itu aku berusaha mencari teman, siapapun itu melalui internet. Kebetulan ada seseorang yang sedang mempromosikan akunnya. Baiklah aku mulai mengundangnya untuk menjadi temanku.

Permintaan pertemanan itu tidak begitu lama akhirnya diterima. Aku memiliki teman, meskipun hanya satu di media sosial ini. Setidaknya media sosial ini tidak kosong sama sekali.

Dengan jalan bertanya pada beberapa temanku akhirnya aku juga memiliki beberapa teman yang juga memilki akun. Meskipun tidak banyak hal yang bisa ku lakukan, aku hanya bisa melihat dan membaca status yang mereka buat.

Hingga suatu hari, teman pertamaku, sang orang yang tidak dikenal membuat status mengenai akun seseorang yang sedang dipromosikan juga supaya memiliki banyak teman. Karena aku ingin memiliki banyak teman pula, aku pun menjadikannya temanku.

Ternyata akun itu milik seorang laki-laki. Sepertinya masih muda, aku bisa menyimpulkannya dari foto yang ia pasang di akunnya. Namanya menggunakan bahasa arab serta fotonya menunjukan bahwa ia adalah seseorang yang religius menurutku.

Aku sering melihat ia mengganti foto akunnya dengan beberapa kata-kata yang juga berkesan religius dan mengajak kepada kebaikan. Namun ia jarang sekali membuat status, sekalinya membuat status ia menggunakan bahasa daerah yang sangat lembut. Aku mengerti bahasa daerahnya, tapi aku lebih sering menggunakan bahasa Indonesia karena beberapa temanku di media sosial itu tidak akan sepenuhnya mengerti.

Setelah beberapa teman yang ku kenal semakin banyak, akhirnya aku mencoba untuk menghapus akun yang tidak ku kenal. Kecuali akun milikinya. Aku sangat penasaran dengan orang ini setelah ia mengganti foto dengan foto dirinya. Tanpa sadar, aku selalu menyimpan fotonya di ponselku ketika berganti.

Mungkinkah aku menyukainya? Aku bahkan tidak tahu siapa dirinya.

Sepertinya aku mengagumi sosoknya. Dari kata-katanya, meskipun ia jarang membuat status, tapi aku sangat senang dan ingin tahu apa yang sedang dipikirkannya saat itu. Status adalah cerminan dirinya. Aku menyukai kata-kata yang diungkapkannya.

Aku tidak pernah tahu siapa dia. Mungkin bahkan ia juga tidak pernah tahu bahwa aku selalu antusias dengan akun miliknya. Hanya melalui akun itu aku bisa tahu. Namun aku tidak memiliki keberanian untuk menyapanya meskipun media sosial ini memungkinkanku untuk melakukan itu. Hanya mengaguminya dari akun ini.

Aku tidak menyesal.

Senin, 07 September 2015

Pacaran itu Ikatan Semu




Istilah pacaran memang sudah tidak asing lagi bagi para remaja di zaman sekarang. Banyak acara televisi maupun sinetron-sinetron yang mencontohkan mengenai hal tersebut. Bagaimana pendapat kamu mengenai pacaran?
Pacaran dapat didefinisikan sebagai ikatan yang dibuat antara laki-laki dan perempuan yang saling jatuh cinta secara bebas. Mengapa saya mengatakan secara bebas? Karena sebenarnya ikatan dalam sebuah hubungan pacaran itu tidak memiliki landasan apapun selain rasa cinta yang kemudian berubah nafsu karena kelabilan emosi.
Coba lihat orang-orang yang berpacaran? Apakah mereka labil? Bagaimana pendapatmu jika mereka putus lalu berurai air mata? Atau mungkin memberikan berbagai macam keinginan sang kekasih supaya senang padahal uangnya berasal dari orangtua? Ketahuan diselingkuhi lalu marah-marah dan membanting semua barang miliknya? Tidakkah labil jiwa mereka?
Ikatan antara orang yang berpacaran itu kasat mata. Maksudnya, yang mengakui hubungan itu hanya orang-orang yang pacaran itu sendiri. Tidak pernah ada landasan yang jelas, seperti buku pacaran (seperti buku nikah) atau kartu pacaran (seperti kartu keluarga) jadi tidak akan terasa aneh jika suatu saat nanti hubungan itu akan berakhir. Jangan pernah merasa marah jika pacarmu selingkuh atau putus. Bukankah ikatan itu hanya semu dan sebatas pengkuan?
Saya terkadang suka bertanya-tanya ketika melihat foto-foto orang yang mengumbar kemesraannya melaui sosial media seolah memamerkan bahwa dirinya memiliki pacar. Saya sempat berpikir, bagaimana jika suatu saat nanti mereka putus? Tidak pernah ada jaminan mereka akan terus langgeng! Putusnya pun bisa kapan saja, dimana saja dn bebas tanpa pengadilan. Kita putus! Maka putuslah, segampang itukah?
Miris jika kejadian putus itu bagi perempuan. Ikatan semu dan penuh nafsu itu kadang berbut sesuatu yang tidak diinginkan terjadi. Nah, jika sudah putus mau bagaimana lagi? Tidak ada hubungan lagi lalu ketika bertemu kembali apakah tidak malu? Atau tidak merasa sedih untuk jodohmu sesungguhnya kelak?
Beberapa survey illegal yang saya lakukan erupa memberikan pertanyaan kepada teman-teman. Kesimpulan yang dapat saya berikan adalah jika orang-orang yang mengumbar foto atau hubungan mereka bersama pacar itu hanyalah untuk member tahu kepada dunia bahwa saya punya pacar, saya laku! Lalu menurutmu orang yang tidak pacaran itu tidak laku? Ya, tidak laku bagi laki-laki pengecut yang maunya instant lebih cepat. Mereka lakunya hanya pada laki-laki matang dan penuh tanggung jawab untuk membawa mereka ke pelaminan.

Minggu, 06 September 2015

Masalahnya adalah Aku



Aku bertanya. Lagi dan lagi.
Namun mereka selalu memberikan jawaban yang hampir sama. Jawaban yang tidak sesuai dengan keinginanku.
Aku seorang perempuan, memiliki seorang teman laki-laki yang baik. Dulu ketika masih muda kami sekelas dan menjadi teman diskusi mengenai pelajaran yang baik. Bahkan menjadi tempat bertanya yang baik pula, ia bertanya mengenai pelajaran yang tidak ia mengerti padaku sedangkan aku bertanya mengenai pemahaman agama yang masih sedikit ku miliki. Kami saling berbagi.
Pada akhirnya, kelas pun selesai. Kami menempuh perjalanan hidup masing-masing. Aku di Bogor sedangkan ia kini berada di Bandung. Sama-sama menyandang status sebagai seorang mahasiswa yang ingin mengubah bangsanya. Setidaknya nama kota yang kami tempati memiliki awalan huruf yang sama.
Namun keterpisahan jarak tidak lantas membuat kami menjadi asing. Kami masih saling mengirimkan pesan, meskipun itu tidaklah sering. Namun terkadang, pesan itu datang.
Selalu diawali dengan ‘Assalamu’alaikum’ ia memulai pesan singkatnya. Terkadang karena kesibukan yang selalu kami miliki di kampus, pesan itu lama sekali untuk terbalas.
Namun setidaknya kami masih seperti itu. Jika aku lupa untuk menanyakan kabarnya, ia yang mengirimiku pesan terlebih dahulu untuk menanyakan kabarku. Hanya sebatas itu.
Terkadang, kami juga saling berbagi sesuatu. Informasi mengenai keadaan kampus masing-masing, berbagi ilmu yang kami terima maupun bertanya sesuatu. Untuk yang terakhir sebetulnya aku yang sering bertanya sesuatu mengenai hukum-hukum agama, yang harus dilakukan ketika bertemu dengan situasi yang sulit. Karena pada akhirnya kami memiliki bidang ilmu masing-masing yang tidak dapat disamakan. Aku mengingat kata-kata ketika ia berkata bahwa akan kulaih dengan mengambil jurusan dunia akhirat. Kini di sanalah ia berada, sesuai keinginannya.
Aku selalu bertanya pada teman-temanku. Apakah yang aku lakukan ini adalah sebuah perbuatan yang tidak diperbolehkan? Interaksi antara ikhwan dan akhwat. Seingatku kami hanya menjaga silaturahmi dengan menyandang status sebagai seorang teman.
Namun aku takut jika aku yang menginginkan sesuatu yang lebih dari itu. Bukan sebuah hubungan yang serius, hanya perasaanku yang tidak dapat aku jaga. Hanya aku, ya sepertinya hanya aku yang berpikiran seperti itu.
Beberapa temanku menyarankanku untuk tidak lagi berkomunikasi dengannya. Aku tahu, alasannya sudah tentu menjaga diri, menjaga perasaan supaya dia tidak berkembang jauh lagi. Tapi tidak bisa, sepertinya aku tidak bisa.
Apa yang harus aku katakan padanya? Apakah aku harus memutuskan pertemanan ini? Aku tidak ingin menjadi teman yang jahat. Kalian tidak mengerti posisiku saat ini. Kami berteman. Kami menjaga. Masalahnya bukan karena pertemanan ini atau dia. Masalahnya adalah aku.