Sepucuk surat yang tidak pernah terkirimkan bagai kata-kata yang tidak terungkapkan. Banyak hal yang ingin dikatakan namun semuanya seolah tertahan. Lidah yang tidak bertulang menjadi kelu tanpa alasan.
Aku mengerti saat itu. Ketika coretan demi coretan itu kian banyak, menumpuk dalam ingatan. Aku hanya bisa menuangkannya melalui tulisan yang hanya ku simpan dalam kenangan.
Siang hari yang panas itu semuanya keluar. Dirimu yang ada dalam kilatan bayangan tampak terlihat dari belakang. Aku menulis surat, membayangkan kita berbincang bersama dan tidak ada yang bisa menghentikannya.
Semuanya. Keluh kesah yang biasanya selalu ku curahkan pada sepertiga malam kini keluar. Tepat dihadapanmu yang menjadi aktor utama dalam peran.
Maafkan aku atas tulisan menyakitkan yang tertulis dalam surat itu. Surat yang tidak pernah ku maksudkan untuk terkirim melalui awan. Aku jahat, ya begitulah persepsi terhadap diri sendiri.
Tapi ada tangan lain yang mendorongku untuk melakukan. Dengan harapan kau bisa interopeksi terhadap dirimu sendiri. Ya, itu yang ku inginkan tapi aku takut bukan itu yang ku dapatkan.
Aku tidak mengerti arti persahabatan. Apakah merasa nyaman atau merasa terabaikan seperti ini? Aku tidak tahu. Dulu, kau yang beritahuku bahwa kita memiliki sebuah ikatan.
Kini aku hanya tersenyum dengan kenangan-kenangan. Betapa perubahan itu sangat tidak membuatku senang. Aku menjelajah dalam impian, berusaha mempertahankan sebuah persahabatan.
Tampilkan postingan dengan label Persahabatan. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label Persahabatan. Tampilkan semua postingan
Selasa, 13 Oktober 2015
Senin, 05 Oktober 2015
Sifat Sahabatmu
Yah. Beginilah rasanya ketika kau hidup bersama
dengan orang lain. Mau tak mau kau jadi tahu bagaimana kebiasaan dan sifatnya setiap
hari.
Persahabatan memang selalu dimulai dengan sesuatu
yang membuatmu nyaman. Ketika pertemuan pertama terjadi, kamu akan mengenal
orang tersebut sebagai seseorang yang ramah dan menyenangkan untuk diajak
berdiskusi. Namun berbeda halnya ketika semua itu terus berlanjut.
Bagaimanapun, baik aku atau siapapun pasti ingin
terlihat baik di mata orang lain. Berusaha sebisa mungkin untuk mempertahankan
citra baik sendiri. Salah satunya dengan memiliki sebuah pertemanan, dan kamu
merasa cocok di dalamnya.
Hal yang sama juga terjadi padaku. Aku berusaha
ramah pada siapapun. Sejujurnya aku tidak pernah bisa sangat dekat dengan seorang
teman, aku suka memiliki banyak teman tanpa harus terikat pada siapapun. Harus
belajar bersama ataupun bermain bersama.
Hingga suatu hari aku bertemu dengan seseorang.
Menurutku ia sangat cocok dengan kepribadianku yang ceria dan mudah bergaul.
Kami berteman dan aku memutuskan semoga selamanya akan begitu.
Tapi yah namanya juga manusia yang terkadang
memiliki salah. Jujur ku akui suatu hari aku melakukan kesalahan padanya.
Semakin lama kita berdiskusi dan saling berbagi pemikiran aku merasa ia yang paling
dominan dalam percakapan kami. Entah mengapa aku malah merasa ia sedikit
memaksakan aku harus melakukan ini, harus melakukan itu. Aku jadi malas untuk
bertanya pendapat padanya lagi.
Suatu hari aku berkata sesuatu mengenai keputusanku.
Aku berbicara pada diri sendiri. Entah mengapa ia yang berada di sampingku
tiba-tiba berkomentar. Komentarnya biasa saja, namun ada sedikit kesan memaksa
di sana yang aku tidak suka. Dengan emosi yang semakin lama semakin memuncak
itu aku membanting sesuatu. Awalnya ia malah tertawa, tidak peduli dengan
kemarahanku. Akhirnya aku pergi dengan wajah marah.
Aku tidak bisa marah. Namun ketika marah itu datang
padaku, aku tidak akan lama memendam semuanya. Setelah pergi, aku menyadari
kesalahanku kemudian lalu kembali padanya untuk menjelaskan sikapku. Ku harap
ia masih bisa tertawa seperti barusan.
Masih dengan malu akhirnya aku memberitahunya dengan
nada yang ku tinggikan. Tidak bermaksud sebenarnya. Tapi gengsi sudah memenuhi
pikiranku.
Sejak saat itu ia mulai berbeda padaku. Ia terlihat
sama bagi orang lain, tetap ramah dan tersenyum. Sekarang ia lebih sering
menyendiri. Ketika aku sengaja ,menyapanya dan bersikap biasa, ia malah cuek
padaku. Hingga kemarahanku semakin menjadi.
“Kamu masih marah padaku? Maafkan aku atas kejadian
tempo hari, aku tidak bisa marah terlalu lama,” kataku mencoba menekan gengsiku
untuk meminta maaf padanya. Namun ia masih saja tetap jutek. Aku menyerah. Aku
hanya bisa menyapanya setiap hari seperti biasanya.
Terkadang aku bingung, apakah aku bodoh atau
semacamnya? Sebenarnya siapa yang sedang marah pada siapa? Harusnya aku juga
marah padanya karena selalu memutuskan apa yang ingin aku lakukan. Tapi
sayangnya, aku tidak bisa menjadi pribadi yang jutek seperti dia. Kadang aku
merasa tidak adil.
Sempat terpikir padaku jika aku juga harus melakukan
hal yang sama padanya supaya ia dapat sadar akan posisiku. Tapi nyatanya, aku
tetap berusaha ceria dan ramah seperti biasa. Aku tidak bisa membalas
perlakuannya padaku.
Ketika sifatnya yang seperti itu muncul kembali, aku
hanya bisa bersabar.
Jumat, 11 September 2015
Persahabatan yang Memudar
Ada kalanya di suatu masa, di suatu kejadian atau peristiwa kita memiliki teman. Mungkin bahkan lebih dari teman, atau biasa kita katakan sahabat. Setiap kejadian itu berlangsung, kita bertemu dari awal hari hingga kemudian pulang dan berpisah bersama dengan sahabat itu lagi. Adakah saat-saat dimana kita jenuh dengan semua itu?
Saya bukan orang yang bisa memiliki seorang sahabat istimewa dari awal hingga akhir. Maka dari itu, terkadang saya berpikir bagaimana orang lain menikmati kehidupan mereka bersama dengan orang-orang yang sama? Kenapa kita tidak mencoba untuk berteman dengan semua orang dan bergantian bersama-sama dengan tiap orang yang berbeda?
Dulu, saya juga memiliki seorang sahabat perempuan yang sangat dekat. Kami sering atau bahkan selalu pergi dan pulang bersama ke sekolah, saat itu usiaku sudah mulai beranjak remaja. Postur tubuhnya sangat berbeda denganku, ia merupakan siswi tertinggi serta kurus di kelas, sementara aku pendek, putih dan agak gemuk. Terbayang jika kita berjalan beriringan? Sudah pasti terlihat seperti gabungan antara angka satu dan nol. Tapi aku tidak pernah menghiraukan itu.
Hingga suatu hari, aku dibuatnya kesal. Karena kami sangat saling mengenal satu sama lain, aku menjadi tidak bebas. Duduk di kelas harus di bangku yang sama. Pergi dan pulang harus bersama-sama. Mengerjakan tugas ataupun kelompok dengan anggota kelompok yang ada dia di dalamnya. Meskipun peraturan itu tidak tertulis namun nampak jelas aku rasakan. Aku jadi tidak terlalu dekat dengan yang lainnya meskipun mereka sering menyapaku.
Ada juga saat hal kecil saja yang ia lakukan juga membuatku kesal. Dengan alasan kami sudah dekat ia menjadi tidak lagi sungkan denganku, meskipun aku masih sungkan padanya. Jika berjalan bersama, ia yang memiliki kaki yang panjang dapat melangkah dengan lebar, alhasil ia selalu mendorongku karena jalanku agak lambat dengan memegang leher. Atau pada peristiwa ketika aku sudah bersiap-siap ergi ke sekolah di saat yang tepat tiba-tiba harus rela terlambat karena menunggunya, itu membuatku kesal. Padahal jika aku jadi dia, aku akan membiarkkan dia berangkat duluan sehingga hanya aku saja yang kena hukuman.
Karena ia mengenalku sebagai seseorang yang suka tidak enakan pada sesuatu, aku jadi merasa ia memanfaatkan kelemahanku dan kau tahu? Aku tentu saja tidak bisa menolak permintaanya meskipun berulang kali aku katakan dalam hati dan mengungkapkannya melalui fisik, tapi ku rasa ia tidak peduli.
Pernahkan mengalami kejadian yang sama denganku? Memiliki sahabat yang dekat memang baik saat kau merasa membutuhkan seseorang yang menemani hidupmu, menjadi pendengar yang setia mendengarkan keluh kesahmu. Namun jangan pernah mengatakan segalanya, banyak peristiwa persahabatan yang putus lalu kejelekan dari sahabatnya ia katakana pada orang lain. Manusia memang tidak bisa sepenuhnya di percaya.
Bukan maksud saya mengharapkan persahabatan yang dimiliki akan memudar. Namun cobalah untuk tidak tergantung pada seseorang saja. Cobalah lihat sekitarmu, banyak orang lain yang juga perlu kamu kenal supaya memiliki banyak teman dan jaringan baru. Ada titik dimana manusia itu bosan dan jenuh dengan apa yang ia lakukan setiap hari, jadi jangan pula mengekang sahabatmu untuk terus menerus bersamamu. Ia punya kehidupan sendiri, dan bukan kamu yang mengaturnya. Meskipun kamu sahabat terdekatnya.
Saya bukan orang yang bisa memiliki seorang sahabat istimewa dari awal hingga akhir. Maka dari itu, terkadang saya berpikir bagaimana orang lain menikmati kehidupan mereka bersama dengan orang-orang yang sama? Kenapa kita tidak mencoba untuk berteman dengan semua orang dan bergantian bersama-sama dengan tiap orang yang berbeda?
Dulu, saya juga memiliki seorang sahabat perempuan yang sangat dekat. Kami sering atau bahkan selalu pergi dan pulang bersama ke sekolah, saat itu usiaku sudah mulai beranjak remaja. Postur tubuhnya sangat berbeda denganku, ia merupakan siswi tertinggi serta kurus di kelas, sementara aku pendek, putih dan agak gemuk. Terbayang jika kita berjalan beriringan? Sudah pasti terlihat seperti gabungan antara angka satu dan nol. Tapi aku tidak pernah menghiraukan itu.
Hingga suatu hari, aku dibuatnya kesal. Karena kami sangat saling mengenal satu sama lain, aku menjadi tidak bebas. Duduk di kelas harus di bangku yang sama. Pergi dan pulang harus bersama-sama. Mengerjakan tugas ataupun kelompok dengan anggota kelompok yang ada dia di dalamnya. Meskipun peraturan itu tidak tertulis namun nampak jelas aku rasakan. Aku jadi tidak terlalu dekat dengan yang lainnya meskipun mereka sering menyapaku.
Ada juga saat hal kecil saja yang ia lakukan juga membuatku kesal. Dengan alasan kami sudah dekat ia menjadi tidak lagi sungkan denganku, meskipun aku masih sungkan padanya. Jika berjalan bersama, ia yang memiliki kaki yang panjang dapat melangkah dengan lebar, alhasil ia selalu mendorongku karena jalanku agak lambat dengan memegang leher. Atau pada peristiwa ketika aku sudah bersiap-siap ergi ke sekolah di saat yang tepat tiba-tiba harus rela terlambat karena menunggunya, itu membuatku kesal. Padahal jika aku jadi dia, aku akan membiarkkan dia berangkat duluan sehingga hanya aku saja yang kena hukuman.
Karena ia mengenalku sebagai seseorang yang suka tidak enakan pada sesuatu, aku jadi merasa ia memanfaatkan kelemahanku dan kau tahu? Aku tentu saja tidak bisa menolak permintaanya meskipun berulang kali aku katakan dalam hati dan mengungkapkannya melalui fisik, tapi ku rasa ia tidak peduli.
Pernahkan mengalami kejadian yang sama denganku? Memiliki sahabat yang dekat memang baik saat kau merasa membutuhkan seseorang yang menemani hidupmu, menjadi pendengar yang setia mendengarkan keluh kesahmu. Namun jangan pernah mengatakan segalanya, banyak peristiwa persahabatan yang putus lalu kejelekan dari sahabatnya ia katakana pada orang lain. Manusia memang tidak bisa sepenuhnya di percaya.
Bukan maksud saya mengharapkan persahabatan yang dimiliki akan memudar. Namun cobalah untuk tidak tergantung pada seseorang saja. Cobalah lihat sekitarmu, banyak orang lain yang juga perlu kamu kenal supaya memiliki banyak teman dan jaringan baru. Ada titik dimana manusia itu bosan dan jenuh dengan apa yang ia lakukan setiap hari, jadi jangan pula mengekang sahabatmu untuk terus menerus bersamamu. Ia punya kehidupan sendiri, dan bukan kamu yang mengaturnya. Meskipun kamu sahabat terdekatnya.
Langganan:
Postingan (Atom)
