Tampilkan postingan dengan label my story. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label my story. Tampilkan semua postingan

Kamis, 24 Januari 2019

Kisahku yang (luar) biasa

Saat kamu bercengkrama dengan orang lain, menceritakan kisah-kisah hidupnya saling bergantian. Aku hanya terdiam. Bukan maksudku tidak ingin ikut serta terlarut dalam cerita, namun aku hanya bingung saat giliranku tiba. Kisah apa yang ingin aku sampaikan?

Tentang aku, yang terbiasa hidup di bawah angan-angan yang hilang. Atau mungkin kisah tentang keluarga yang bagiku luar biasa, tapi ternyata hanya sebatas itu saja. Aku bimbang. Kisah itu tidak semenyenangkan ketika aku membayangkannya. Ternyata, itu kisah yang biasa saja.

Sekarang, aku terbiasa menonton kisah-kisah drama yang tersajikan begitu saja. Kisah heroik dan menarik. Kisah yang mungkin sebenarnya jalan cerita itu jarang terjadi di kehidupan kita. Aku menjadi gagu. Kisahku ternyata tak semenarik itu.

Aku hanya menjadi pendengar!

Aku hanya bisa menjadi seseorang yang berimajinasi tinggi tentang kisah orang lain.

Aku dan kisah yang luar biasa ini (bagiku).

Kamis, 17 Desember 2015

Berpetualang dengan Sepeda


 
Sore menjelang malam itu tanpa sengaja aku melihat sebuah sepeda yang terparkir rapi di halaman asrama. Setelah melihatnya dengan rasa tertarik aku kemudian memasuki asrama sambil berteriak.

“Sepeda di luar punya siapa?” kataku dengan suara yang cukup keras. Beberapa penghuni menatapku dan salah seorang diantara mereka menjawab pertanyaanku.

“Aku, kenapa?” Jawab seorang gadis yang sedang sibuk membuat minuman di depan lemari es.

Aku menghampirinya, “Boleh ku pinjam?” Tanyaku. “Tapi nanti setelah shalat maghrib,” sambungku cepat sebelum ia menjawabnya.

“Baiklah, nanti kau ambil saja kunci kecil di atas meja yang ada di kamarku.” Aku bersorak bahagia lalu dengan cepat pergi ke kamar mandi untuk mengambil air wudhu. Jika diperkirakan beberapa menit lagi adzhan maghrib akan berkumandang.

Seusai shalat maghrib berjamaah aku segera bersiap-siap untuk mengendarai sepeda.

“Ada yang mau menitipkan sesuatu untuk dibeli? Aku akan keluar,” beberapa orang mulai menyodorkan sejumlah uang serta pesanan mereka. Aku senang bisa membantu banyak orang.

Sesuai dengan instruksi sebelumnya, aku mencari sebuah kunci kecil yang berada di kamar gadis itu. Setelah mendapatkan kunci tersebut, aku bingung memasukannya ke sebelah mana. Selama ini aku belum pernah mengendarai sebuah sepeda dengan kunci.

Beberapa kali bertanya namun masih belum mengerti, akhirnya dengan terpaksa aku memasukan sepeda itu ke dalam asrama dan menyodorkan pada pemiliknya. Setelah diberi contoh cara menggunakan kunci tersebut akhirnya aku melaju keluar rumah.

Suasana malam itu cukup padat dan kondisinya aku masih belum bisa menyesuaikan diri menggunakan sepeda karena sudah cukup lama tidak menggunakan alat transportasi ini. Dengan perlahan-lahan akhirnya aku bisa mengendarainya meskipun agak oleng ketika berhenti tiba-tiba akibat keadaan jalan yang cukup macet dan sempit oleh para pedagang.

Setelah pergi-pulang beberapa kali untuk memberikan pesanan orang lain aku memutuskan untuk berjalan-jalan agak lama. Pilihanku tertuju pada sebuah daerah, aku pernah ke sana dengan berjalan kaki untuk mencari rumah seseorang. Namun aku tersesat dan kakiku lelah karena ternyata rumahnya cukup jauh. Aku memutuskan ke daerah sana dengan menaiki sepeda sekarang.

Awalnya biasa-biasa saja dengan perhentian yang tiba-tiba karena macet, namun setelah cukup lama suasana jalan menjadi cukup lenggang dan agak gelap membuatku sedikit takut. Dengan berbekal keberanian yang aku miliki aku tetap mengayuh sepedaku dan akhirnya adhzan isya berkumandang tepat ketika aku melewati sebuah masjid besar.

Aku melaksanakan shalat isya di sana sebagai satu-satunya makmum perempuan, selebihnya laki-laki. Setelah itu aku memutuskan untuk kembali pulang karena sudah cukup malam.

Berbeda dengan kejadian awal pergi, ketika akan pulang ada kejadian yang kurang menyenangkan. Tiba-tiba saja terjadi macet karena sempitnya jalan sementara di depanku seorang pejalan kaki sedang berjalan dengan cukup lambat. Karena aku tidak ingin menabrak pejalan kaki itu akhirnya aku banting stir dan menuju tengah jalan. Untungnya, motor di sana melaju dengan kecepatan biasa saja sehingga tidak terjadi kecelakaan.

Sebenarnya aku juga ingin menggerutu karena laki-laki yang tadi menghalangiku hanya menatapku dengan tatapan seolah kasihan. Aku jadi malu dan memutuskan untuk segera pergi dari sana.

Meskipun pulang dengan membawa sebuah kejadian yang tidak menyenangkan namun aku bisa refreshing dan bahagia karena bisa melepaskan penatku beraktivitas dengan menaiki sepeda di suasana malam.

Senin, 07 Desember 2015

Menulis dan Menulis lagi




Hari sabtu itu aku berada diantara agenda, diantaranya adalah mengikuti seminar kepemimpinan di kampus atau seminar kepenulisan Forum Lingkar Pena di D’Jampang. Setelah memikirkan berulang kali dan akau tidak mungkin berada di tempat yang berbeda dalam waktu yang sama, akhirnya aku memutuskan untuk ikut pelatihan kepenulisan. Alasannya karena kini saya sudah tahu minat dan bakat saya di bidang kepenulisan dan ingin mengingkatkan kapasitasnya.

Sejujurnya, aku tidak pernah pergi jauh di kota perantauan ni. Tapi kali ini pelatihannya berada di daerah parung. Untungnya, aku tidak tersesat dan salah masuk angkot. Berbekal informasi dan estimasi waktu akhirnya aku datang tepat waktu di sana.

Aku sangat tertarik dengan daerah D’Jampang dan sekitarnya, karena terdapat berbagai macm fasilitas dari Dompet Dhuafa. Sebuah lembaga yang kini juga menaungiku di Beastudi Etos di Kampus. Namun, sayang sekali waktunya tidak cukup untuk berjalan-jalan ke sana.

Pelatihan ini diisi oleh seorang penulis yang telah menerbitkan lebih dari 50 buku, sungguh angka yang fantastis. Pasalnya, satu buku yang ingin ku terbitkan sampai sekarang belum terealisasikan dalam bentuk novel. Dari beliau aku belajar banyak hal, diantaranya yang paling kena di hati adalah penulis adalah penulis meskipun belum membukukan karyana. Hal tersebut sungguh kini memicuku kembali untuk tetap menghasikan sebuah karya tulisan.

Tujuan kitadalam menulis harus diperbaiki lagi. Karena penulis itu bukan berarti harus membukukan tulisan maka jika kamu memiliki sebuah tulisan, cetak saja sendiri dan simpan di perpustakaan pribadi.. meskipun tidak ada yang membaca, setidaknya orang-orang terdekat akan membaca karyamu. Mungkin, generasi penerusmu juga akan membacanya.

Alasan dari jaman dahlu kala kita menulis adalah supaya kita bisa dikenal, orang-orang tahu bahwa dulu saya itu ada. Yang terpenting bukanlah dunia tahu kamu ada, melainkan anak-cucumu nanti tahu bahwa dahulu kamu pernah menghasilkan sebuah tulisan.

Kini semangatku dalsm menulis seolah meninggi kembali. aku ingin menghasilkan karya, apapun itu. meskipun suat hari nanti tidak bisa dibukukan karena sekarang penerbitan buku sudah memiliki banyak naskah yang akan dibukukan. Kamu bisa mencetaknya sendiri dan menyimpannya untuk dirimu sendiri.

Menulis bukanlah sebuah bakat, melainan keterampilan yang akan semakin baik jika diasah. Jika setiap kali aku menulis, maka tulisanku akan menjadi lebih baik dari sebelumnya. Abaikan saja apabila ada yang mengkritik tulisan jelekmu. Jadikan sebuah pelajaran supaya tulisanmu lebih baik dari sebelumnya.

Minggu, 06 Desember 2015

Medsos Menjauhkan Jarak Kita

http://lapan6online.com/wp-content/uploads/2015/10/media-sosial-twitter-facebook-path-instagram-blog.jpg

Dulu, ketika aku belum memiliki Android dan beberapa media sosial yang ada di dalamnya. Aku selalu pergi untuk melaksanakan rapat. Rasanya menyenangkan ketika saling berbagi ide masing-masing sambil tertawa bersama, meskipun saat itu mungkin ada beberapa orang yang hadir namun tidak memberikan idenya. Setidaknya kita tahu bahwa mereka juga memiliki komitmen dan menyerahkan segala keputusan pada tim.

Saat itu, aku tahu hal-hal apa saja yang menjadi tugasku dalam tim ini. Aku mendapatkan jobdesk yang jelas dengan waktu yang juga ditentukan supaya tidak molor dari jadwal yang seharusnya.

Hasil rapat dibacakan di akhir dan menjadi ringkasan dalm mengakhri pertemuan menyenangkan ini.

Suatu hari, keadaan sedikit demi sedikit mulai berubah. Ketika kami berkumpul bersama dan membicarakan hal-hal yang ingin dibahas, ketua divisi kami berkata “Boleh minta akun ---?” (salah satu akun media sosial yang biasanya ada di Android). Satu per satu anggota tim kami saling bertukar akun, sementara aku hanya terdiam dan dengan tegas mengatakan aku tidak memiliki Android. Aku merasa harganya terlalu mhal untuk ku beli sekarang.

Salah satu komunikasi yang ku andalkan adalah pesan teks. Aku menunggu kelanjutan kinerja kami melalui itu, rindu saat-saat kita berkumpul dan membahas amanah rasanya bukanlah merupakan sesuatu yang berat. Karena aku menikmatinya.

Kami berkumpul kembali. Namun ada beberapa hal yang berbeda dari biasanya. Mereka membahas sesuatu yang tidak ku ketahui sebelumnya, aku tertinggal informasi yang berharga namun aku tidak sempat menanyakan hal tersebut. Seperti ada sebuah obrolan yang ku lewatkan dan ku rasa obrolan itu melalui grup yang katanya sudah mereka buat.

Aku jadi merasa kurang nyaman dengan situasi ini dan beberapa kali suasana tersebut terjadi. Aku bertekad mengumpulkan biaya untuk membeli Android, sepertinya barang itu memang harus dimiliki supaya informasi apapun tidak ku lewatkan.

Saat biaya itu terkumpul aku harus tetap memikirkan dana yang keluar. Apakah nantinya berpengaruh pada yang lainnya karena dana tersebut terpakai. Alhasil aku hanya membeli sebuah Android dengan harga yang termurah dan cukup baik menurut pandangan teman-temanku.

Menyenangkan memang, berbincang melalui media sosial tanpa perlu bertemu. Aku menikmatinya. Hal ini membuatku malas untuk sekedar bertemu karena apapun bisa diselesaikan melalui media sosial dan email. Bahkan tugas pun demikian.

Lama kelamaan, semakin hari grup yang aku miliki di media sosial semakin banyak. Apapun itu, selalu dibuat grup. Aku menjadi pusing ketika banyak chat yang masuk dan itu hanya berasal dari orang-orang yang sedang mengobrol di grup,  tidak ada hubungannya dengaku. Terlalu banyak chat grup yang masuk membuatku sering mematikan pemberitahuan.

Kejadian  yang terus berulang itu membuatku ketika melihat grup sekarang memiliki banyak sekali percakapan, kadang membacanya. Namun karena malas semakin hari percakapan semakin banyak dan akhirnya aku hanya bisa membukanya, Android murahku jadi ngehang.

Ada beberapa hal yang tanpa disadari telah terjadi. Kini intensitas bertemu dalam sebuah tim yang terbentuk menjadi sangat jarang. Beberapa hal yang harus dibicarakan secara tim, kini mulai tergantikan dengan rapat online yang tidak semuanya bisa hadir atau sekedar memberi idenya. Apalagi jika hanya dibaca tanpa dijawab. Kami mengerti, namun kami mengabaikannya.

Mungkin ini salahku dengan perasaanku yang merasa tidak dianggap lagi dalam sebuah tim. Karena komitmen kini diukur melalui seberapa sering mereka chat di grup. Pertemuan biasa menjadi terabaikan, aku ketinggalan banyak informasi yang dibahas di grup tersebut. Aku yang jarang hadir untuk menuliskan chat menjadi seolah tidak bermanfaat. Hingga akhirnya keputusan ini menjadi bulat. Aku ingin keluar dari tim ini.

Berat rasanya mengambil keputusan tersebut setelah sekian lama kami bersama. Bersama melalui media sosial saja, pertemuan itu hanyalah ketika kami tidak sengaja berpapasan di jalan saja. Saling sapa, saling basa-basi bertanya.

Keputusan ini berakhir dan aku meminta maaf berkali-kali karena tidak bisa berkontribusi banyak. Namun aku juga bersyukur, pikiranku yang selalu terngiang-ngiang ketika aku melihat grup di media sosial itu akhirnya terhenti. Rasanya suatu hari nanti aku ingin membuang akun tersebut.

Entahlah, kini aku menjadi malas mengikuti apapun. Dimana pun, media sosial ini selalu ada. Memudahkan tapi membuatku tidak nyaman. Mungkin suatu hari nanti aku akan menemukan sesuatu yang benar-benar aku inginkan dan saat itu datang aku akan memberikan kontribusi dan komitmen terbaikku. Media sosial tidak akan lagi menjadi sesuatu yang menjauhkan kita.

Menjadi Terabaikan



Pernahkah kamu menjadi seseorang yang terabaikan? Merasa tidak dianggap  atau merasa diri hanya sekedar menjadi aksesoris dalam sebuah tim? Jika jawabannya adalah iya, tenang saja kamu tidak sendirian merasakan hal seperti itu.

Saya juga merasakan hal yang sama. Menyedihkan memang, membuat tidak nyaman ketika kami sedang bekerja bersama-sama. Saya hanya melakukan sesuatu yang sia-sia, berhati-hati dalam melakukan sesuatu karena takut dianggap salah dan mengikuti langkah mereka pergi supaya bisa diberi pekerjaan dan dapat setidaknya membantu. Selanjutnya, saya hanya berjalan-jalan melihat tim lain yang juga sedang bekerja sama, rasanya iri melihat kebersamaan mereka.

Kejadian itu selalu berulang setiap pekannya. Beberapa hal saya lakukan sebelum memulai bekerjasama dalam sebuah tim yaitu mempersiapkan diri dan juga hati, karena mau bagaimana pun terkadang hati ini merasakan sakit ketika pekerjaan hanya diambil alih oleh beberapa orang saja, saya bingung mengerjakan apa karena tidak ada pembagian kerja yang jelas. Sementara itu, orang yang melakukan pekerjaan juga seringkali menggerutu, saya takut itu tertuju pada saya sendiri. Saya terlalu sensitive dan tidak enakan pada orang lain.

Saya suka kerja dalam tim. Saya juga suka membagi tugas menjadi beberapa bagian yang dilakukan oleh beberapa orang. Namun dalam tim ini saya merasa tidak memiliki hak melakukan hal tersebut. Alasan yang bisa saya tangkap adalah, tidak ada kepercayaan dalam melakukan sesuatu pada orang lain. Maka dari itu, pekerjaan apapun terkadang dikerjakan sendiri.

Padahal saya mampu. Padahal saya juga bisa melakukannya. Saya tidak melakukan apapun karena memang tidak ada instruksi yang jelas dan rasa tidak percaya itu membuat saya selalu tidak mendapat bagian yang seharusnya. Cara melakukan hal tersebut hanyalah dengan berusaha membuktikan kesalahpahaman itu. Bahwa saya juga mampu melakukannya jika anda percaya.